Random Al Qur'an

Membaca Al Qur'an dengan baik dan benar PDF Cetak E-mail
Sabtu, 30 Agustus 2008
Alkisah, ketika waktu maghrib tiba dan jamaah sudah cukup banyak berada di Masjid Rest Area jalan tol, beberapa orang berinisiatif untuk mengerjakan shalat berjamaah (memang seharusnya seperti itu), nah,ketika iqamat sudah dikumandangkan maka para jamaah yang tidak saling kenal itu saling mempersilahkan untuk menjadi Imam, maka pilihan jatuh kepada seorang yang tampaknya "alim" nampak bajunya juga "islami" plus - maaf – berjenggot (meskipun yang berjenggot dan fasih baca Al Qur'an juga buaanyak, karena memang "berjenggot" tidak menjamin seseorang itu alim dan fasih membaca Al Qur'an)
 . 
"Allahu Akbar" Takbiratul Ihram sang Imam terdengar , serentak makmum bertakbiratul Ihram, " Alhamdulillahirabbul 'alamiin"….(nampaknya Imam ini tidak bermadzhab syafii, kemungkinan bermadzhab Maliki (madzhab ini berpendapat bacaan basmalah bukan bagian dari Al fatihah) atau Hanafi atau Hanbali (dua madzhab ini berpendapat bahwa Basmalah adalah bagian dari Al fatihah, namun bacaannya dengan suara hampir "sirr" tak terdengar)..bacaan barikutnya : Arrahmanirrahim (dengan membaca Ra (seperti kata –roti-) dibaca Ra (seperti kata –rajin-), …Maliki yaumiddin (dibaca oleh si Imam yaumid(dh)in seperti kata –kuda-) terus baca ..ketemu "shirathal ladzina … ( dibaca lazzina…), ….dan seterusnya hingga shalat selesai .

Dalam Kitab Al Majmu III/250-251 dan Tuhfah al Muhtaj II/37 disebutkan : Syarat sah membaca Al Fatihah adalah harus sesuai dengan kaidah Ilmu Tajwid serta seluruh hurufnya (142 huruf) dan tasydidnya (14 tasydid). Apabila terdapat satu saja huruf atau tasydid yang tidak terbaca atau tertukar dengan huruf lain seperti: ذ dibaca ز atau س dibaca ص atau sebaliknya, maka bacaan Al Fatihahnya tidak sah, dan berarti Shalatnya tidak sah juga karena dianggap tidak membaca Al fatihah…naudzubillah

Padahal Rasulullah bersabda dalam hadits dari Ubadah bin Shamit: 

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah. (HR. Al-Bukhari) 

Ibadah yang didalamnya ada Rukun atau Wajib untuk membaca ayat atau surat Al Qur’an, seperti Ibadah Shalat, -memang- boleh jadi menjadi tidak sah/batal. Apalagi, bila kesalahan membaca tersebut dilakukan oleh Imam Shalat misalnya. Oleh sebab itu sudah seharusnya mulai sekarang kita - mau tidak mau- kita belajar Alquran; dari mulai cara membaca, memahami dan sekaligus mengamalkan isi dan kandungannya (Al Qur’an).

Al Qur’an hendaknya dibaca sesuai dengan tata cara membacanya (jelas atau samar, dengung, qalqalah, panjang pendeknya huruf, kapan waqaf/berhenti, kapan terus dan sebagainya) ( 

Rasulullah bersabda
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ بَشَّرَاهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأْهُ عَلَى قِرَاءَةِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ) أحمد ، ومسلم ، وابن ماجه ، والحاكم(

Dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه sesungguhnya Abu Bakar, Umar menyaksikan bahwa Rasulullah bersabda : Barangsiapa ingin membaca Al Qur’an dengan merdu sebagaimana ketika diturunkan, hendaklah ia membacanya menurut Bacaan Ibni Ummi Abdi ( Abdullah bin Mas’ud) (Hadits riwayat Ahmad, Muslim, Ibn Majah dan Hakim – Hadits ini Shahih menurut Syarat Shahihain)

Imam Jalalluddin As Suyuty dalam Kitab “ الإتقان في علوم القرآن “, setelah mengutip hadits nabi Muhammad dari Abdullah bin Mas’ud r.a tersebut di atas, beliau mengatakan : “ Bila Al Qur’an dibaca tidak dengan Ilmu Tajwid akan tejadi kesalahan, baik kesalahan yang jelas (Jaly) atau samar (khafy)

Jadi, meskipun sudah menguasai Bahasa Arab, tetap dilarang membaca Al Qur’an tanpa mengikuti kaidah ilmu tajwid. Disamping itu, hendaknya dibaca dengan suara yang sebagus-bagusnya, tidak asal bunyi dan tidak asal membaca seperti orang berbicara.

Dan sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk jasmani kita atau rupa dan baju kita tetapi Allah akan melihat kepada hati kita (terjemahan hadits Shahih Muslim)..iya..Hati adalah "isi" kualitas dan performance ke –Alim-an sesorang, bukan "baju" atau "model penampilan" yang seakan-akan dia itu 'alim (berpengetahuan,) ini tidak berbeda dengan 'dummy" handphone, sepertinya handphone beneran (karena, size, berat dan bentuknya sama persis) tapi ternyata cuman "mainan". Dan ..mari kita perbaiki diri kita di bulan suci ini, dengan Ta'lim Al Qur'an, perbaiki "makhraj" pelajari Tajwid dan bacalah Al qur'an menurut hak nya, bacalah Al Qur'an menurut standarnya, mudah-mudahan Al qur'an yang kita baca itu menjadi syafaat penolong kita nanti, amin ya rabbal alamin. (gus arifin/ketua tanfidz jatiqo)



 
Modul Artikel Islam di www.jatiqo.com PDF Cetak E-mail
Sabtu, 30 Agustus 2008
مرحبا يا رمضان
Marhaban Ya Ramadhan 
Selamat menunaikan Ibadan Puasa, Semoga Allah Swt meridloi amal kita, Amin

Jangan lupa membuka menu Modul Artikel Islam di website ini !!
 Wassalam 
IT DEPT JATIQO


 
Fiqh, apaan tuh? PDF Cetak E-mail
Sabtu, 30 Agustus 2008
Fiqh adalah Ilmu yang sangat penting, dan perlu bagi kita untuk mempelajari, memahami dan sekaligus sebagai "ilmu" kita dalam melaksanakan perintah-perintah Allah swt dan juga Sunnah Nabi Muhammad SAW:

1. Ta’rif / Pengertian : Fiqh = faham atau mengerti. Atau Ilmu untuk mengetahui Hukum-hukum Syara’( berupa perintah / larangan Allah ) yang diberlakukan kepada perbuatan anggota (tubuh manusia), diambil dari hukum-hukum yang terinci (tafshili).
2. Yang mengaturnya : Nabi Muhammad , Penyusun Pertama kali: Imam Abu Hanifah atau Imam Hanafi (80H/689M-150H/749M ).
3. Namanya : Ilmu Fiqih
4. Bandingannya dengan Ilmu lain (Nisbatuhu) : Ilmu untuk mengetahui perbedaan hukum-hukum syara’ dengan ilmu-ilmu lain.
5. Tempat berlaku (maudlu’)-nya : Perbuatan-perbuatan yang mengakibatkan hukum Taklifi dan hukum Wadl’i
6. Hukum mempelajari Fiqih : Fardlu Ain ( untuk mengetahui hukum-hukum, sah / tidaknya suatu Ibadah.
7. Tujuan : mendapatkan keridlaan Allah , Bahagia di dunia dan akhirat
8. Pengambilannya : Al Qur’an, Hadits / Sunnah, Ijma’ dan qiyas.
9. Masail-nya (yang dibicarakan ) : Kalimat-kalimat yang mengandung hukum,  yang langsung atau tidak langsung; seperti dikatakan “ Zakat fitrah itu Wajib “ atau Wudlu itu Syarat Shalat. dll
10. Hukum Taklifi (yang dibebankan kepada mukallaf/orang Islam, yang Baligh, berakal, dan dakwah sampai kepadanya) : 1. Wajib ( = Fardlu ) 2. Sunnat 3. Mubah 4. Makruh 5. Haram.
11. Hukum Wadl’i (kondisi): 1. Sebab; 2. Syarat; 3. Ma’ani; 4. Sah; 5. Batal

Konsekwensi Adanya Ilmu Fiqih 
Hukum-hukum itu ditinjau dari pengambilannya (dari Al Qur’an / Sunnah ) dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat ) :
1. Hukum yang diambil dari nash (sumber dalil/teks yang ada di Al Qur'an/hadits) yang tegas, yakin adanya dan yakin pula maksudnya menunjukkan hukum itu.
2. Hukum yang diambil dari nash yang tidak yakin maksudnya terhadap hukum-hukum itu.
3. Hukum yang tidak ada nash, baik secara Pasti (Qath’i) maupun dugaan (dhanni), tetapi pada suatu masa telah ada kesepakatan (Ijma’) dari para Mujtahidin atas hukum-hukumnya.
4. Hukum yang tidak ada nash, baik secara Pasti (Qath’i) maupun dugaan (dhanni), dan tidak ada kesepakatan (Ijma’) dari para Mujtahidin atas hukum-hukumnya.

Ada (3) tiga kemungkinan bagi kita (umat Islam) dalam melaksanakan Hukum Syara’ tersebut :
1. Mujtahid ( perbuatannya disebut Ijtihad ) : Orang Islam yang melaksanakan Hukum Syara’ dan tahu Hukum/nash/dalil-nya serta mampu melakukan Ijitihad.
2. Muttabi’ ( perbuatannya disebut Itba’ atau Ittiba') : Orang Islam yang melaksanakan Hukum Syara’ dan tahu Hukum/nash/dalil-nya.
3. Muqollid ( Perbuatannya disebut Taqlid ) : Orang Islam yang melaksanakan Hukum Syara’ dan Tidak tahu Hukum/nash/dalil-nya (hanya ikut-ikutan saja).

Jadi, paling tidak kita harus termasuk Muttabi’ dan jalan terbaik adalah dengan melalui jalan (dalam istilah disebut madzhab (المَذْهَبُ) yang telah dibuat oleh para Imam Mujatahidin yaitu Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi'i dan Imam Hanbali. (gus arifin/it-dept Jatiqo)



 
Mudah-mudahan, AA Gym dan ust Arifin Ilham tidak sengaja! PDF Cetak E-mail
Kamis, 28 Agustus 2008
Serpong (aai-news) :
Ketika diminta komentar mengenai  acara Indonesia Berdzikir hari Ahad 24 Agustus 2008 di Istiqlal yang dihadiri Ust Arifin Ilham dan AA Gym dimana kedua beliau sama sekali tidak menyoroti masalah korban Lumpur lapindo (sebagaimana dilansir detik.com), Ketua Jam'iyah Tilawatil Qur'an, Gus Arifin mengatakan : " Mudah-mudah an saja beliau-beliau itu tidak sengaja melupakan korban lapindo, dengan ber khusnu dhon (berprasangka baik), meskipun acara tersebut bekerja sama dengan forum Al Bakrie."  Ketika ditanya apakah Gus Arifin hadir atau menyaksikan acara itu ? " Kebetulan saya sedang mengajar di AAI, jadi saya tidak hadir dan tidak nonton TV."  "Tapi memang masalah bangsa ini tambah banyak, dan untuk masalah yang sensitif seperti menyangkut penderitaan rakyat porong, akan ada semacam kecurigaan bahwa Ust Arifin Ilham ada pesanan dari forum Al  Bakrie untuk tidak membawa-bawa masalah Korban Lumpur Lapindo ke Istiqlal !!" imbuh  Gus Arifin. " Ya mudah-mudahan lah, AA Gym dan Ust Arifin Ilham bisa me-respons issue ini, Insya Allah orang Porong bisa terhibur." harap Gus Arifin. (it-dept)
-------------------------------------------------------------------
Senin, 25/08/2008 14:00 WIB
Korban Lapindo Kritik Aa Gym dan Arifin Ilham 
Rafiqa Qurrata A – detikNews 

Jakarta - Korban lumpur Lapindo mengirim 'surat cinta' untuk dai kondang Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym dan Arifin Ilham yang mengisi acara 'Indonesia Berzikir'. Mereka menyesalkan Aa Gym dan Arifin yang dinilai melupakan korban Lapindo.

'Surat cinta' yang meluapkan kekecewaan itu dituangkan para korban Lapindo melalui blog resmi mereka, berantaslapindo.wordpress.com yang diposting Senin (25/8/2008).

Para korban ini merujuk pada keikutsertaan kedua dai kondang itu pada acara 'Indonesia Berzikir' yang digelar Minggu 24 Agustus 2008 di Masjid Istiqlal, Jakarta. Acara yang digelar Majelis Az-Zikra bekerjasama dengan forum Al Bakrie pimpinan anak Menko Kesra Aburizal Bakrie, Anindya Bakrie.

Saat itu, Aa Gym dan Arifin banyak menyentil berbagai persoalan bangsa ini, mulai dari soal wakil rakyat, sampai soal penegakan hukum. Arifin menyentil koruptor yang tidak dihukum berat dan penangkapan Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab yang dinilai tidak adil. Sedangkan Aa Gym lebih banyak berbicara soal korupsi.

Namun, soal warga yang kehilangan harta benda dan kehidupan sosial mereka yang berantakan, ganti rugi yang hingga kini belum teratasi, hingga ancaman hilangnya sejumlah desa dari peta, sama sekali tidak disebut-sebut oleh kedua dai itu.

"Mengapa bapak-bapak menjadi lupa terhadap korban Lapindo?" tulis mereka dalam blog itu.

"Pak Ustadz Arifin Ilham dan Aa Gym. Sejenak, hanya sejenak, lihatlah penderitaan korban Lapindo. Mereka tentu lebih menderita dibandingkan Habib Rizieq ataupun Munarman," sesal mereka.

"Apa karena acara ini disponsori oleh Bakrie Group sehingga kalian tidak dibiarkan berbicara hal ini?" bunyi kalimat terakhir dalam posting blog itu.

Menurut salah seorang pengacara korban Lapindo, Taufik Basari, blog itu merupakan bagian dari gerakan warga Porong yang terus memperjuangkan hak mereka. Blog itu dibuat untuk mengatasi monopoli informasi oleh pihak Lapindo.

"Selain blog, korban juga membuat radio komunitas di Porong, dan berbagai terbitan," kata pria yang menjadi kuasa hukum warga dalam gugatan kasus Lapindo di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat ini. 

Taufik menilai para dai yang tidak peduli dengan korban Lapindo semakin membuat korban terpinggirkan.

"Korban melihat ketika ada suatu acara besar, lalu ada satu refleksi terhadap kehidupan bangsa dengan penuh isak tangis, tetapi tidak ada satupun yang mempersoalkan penderitaan korban. Padahal jelas-jelas ini penderitaan luar biasa," ujarnya.
(fiq/iy)
---------------------------------------------------------------------------
 
Gerakan Membaca Qur'an (GMQ) PDF Cetak E-mail
Rabu, 27 Agustus 2008

(aai-news) Pandeglang, Banten:

Dalam rangka menyambut datang nya Sayyidus Syuhur, Bulan Ramadhan, pada 23 Agustus 2008 yang lalu, Ketua Jatiqo (Jam'iyah Tilawatil Qur'an) Gus Arifin diundang untuk memberikan Taushiah di Majelis Ta'lim Mamba'ul Ulum Kp Peuni Cipanas Pandeglang. Dalam taushia-nya Gus Arifin menjelaskan mengenai kegiatan yang sudah semakin ditinggalkan oleh ummat Islam yaitu membaca Al Qur'an atau mengkhatamkan Qur'an. "Sekarang ini sudah sangat jarang terdengar di rumah-rumah orang Islam suara bacaan AlQur'an, suara orang ngaji qur'an, yang ada dan banyak adalah suara nya si Ruben Onsu atau si Ivan Gunawan." Kata Gus Arifin. "mari kita mulai lagi,meskipun berat, kebiasaan membaca Qur'an, minimal 50 ayat sehari, Insya Allah dalam waktu 4 bulan khatam,kalau mau lebih sering khatam ya ..ditambah lagi misalnya 100 ayat perhari atau 200 ayat per hari atau 1 juz perhari." sambung beliau di hadapan Jama'ah MT Mambaul Ulum dan para Ajengan dan kyai. Acara Tarhib Ramadhan ini di hadiri oleh KH. Entong Tsabit , Tokoh Ulama Pandeglang Banten serta beberapa orang kyai lainnya.

Dan dalam Agenda Jatiqo di bulan Ramadhan 1429H ini diadakan Kursus Menerjemah Al Qur'an dan membaca Kitab kuning. Kursus ini hasil kerja sama antara Jam'iyah Tilawatil Qur'an dan Agus Arifin Institute. Kursus ini Gratis, dan diselenggarakan dalam 3 kali pertemuan, setiap Ahad pada Bulan Ramadhan. yaitu  diadakan  pada tanggal 7,14,dan 21 September 2008M jam 9.00 - 10.30 WIB.

Tema Kegiatan di AAI dan Jatiqo tahun ini adalah GERAKAN MEMBACA AL QUR"AN (GMQ)  (it-dept)