Random Al Qur'an

Home arrow ARTIKEL ISLAM arrow Waqaf dan Iklan Parpol
Waqaf dan Iklan Parpol PDF Cetak E-mail
Rabu, 28 Januari 2009
Dalam Iklan salah satu Partai Politik : "Saya bersumpah dan mewakafkan sisah hidup ini untuk ikut menyejahterahkan rakyat Indonesia."

Ternyata Istilah Waqaf pun dipakai dalam dunia Politik,  namun tidak tepat !!

Berikut uraian mengenai BAB WAQAF:

1. Hukum waqaf
Waqaf adalah jaiz menurut ijmak para Sahabat. [Al Mughny 5/489, 490]

2. Sifat waqaf yang sah
Bila waqaf diketahui permulaan dan batas akhirnya, tidak terputus, rnaka ini merupakan waqaf yang sah, tanpa ada perbedaan pendapat. Jika seseorang berkata: "Aku waqafkan sesuatu pada seseorang tertentu selama setahun,baru kemudian untuk orang-orang fakir", waqaf yang model 
ini sah menurut kesepakatan ulama. [Al Mughny 5/510 Fathul Bary 5/310]

3. Waqaf pada waktu sakit yang mengakibatkan kematian (maradlul maut)
Pewaqafan waktu sakit payah, kedudukannya sama dengan wasiat dalam hal dibilang dari sepertiga harta. Jadi bila dikeluarkan dari sepertiga, waqaf itu jaiz tanpa ridla ahli waris; sedang yang lebih dari sepertiga, yang harus menjadi waqafan adalah sepertiganya dan selebihnya menunggu izin ahli waris. Ini tindakan Umar dan termasyhur di kalangan Sahabat serta tidak ditentang, maka jadi ijmak. [Al Mughny 5/513, 514]

4. Waqaf sebelum penerimaan bendanya
Waqaf sebelum penerimaan benda yang hendak diwaqafkan. sah menurut ijmak. [Nailul Authar 5/160]

5. Mengaitkan permulaan waqaf pada suatu syarat
Mengaitkan permulaan waqaf pada suatu syarat dalam kehidupan, seperti mengatakan "Apabila datang permulaan bulan ini. rumahku aku waqafkan", atau "Apabila anakku lahir", atau "Apabila orangku yang pergi telah datang", dan semacam, itu semua tidak boleh, tanpa diketahui ada perbedaan pendapat mengenai hal itu. (Al Mughny 5/514)

6. Waqaf dengan syarat tasharruf/Transaksi (Tasharruf ialah kegiatan penggunaan harta benda, jual beli atau transaksi lainnya)
Orang yang mewaqafkan sesuatu dan mensyaratkan menjualnya kapan dikehendaki, atau meng-hibah-kannya, atau mengembalikannya, maka syarat itu tidak sah, demikian pula waqafnya; tanpa diketahui ada khilaf/perselisihan ulama mengenai ini.'

7. Penafsiran shighat (bentuk) waqaf
Orang yang menyatakan mewaqafkan pada anak-anak seorang lelaki tertentu dan cucu-cucunya, maka dalam hal ini -- (anak/cucu) lelaki dan perempuan - sama statusnya. Orang yang mewaqafkan pada suatu kaum dan anak-anak mereka serta penerus dan keturunan-keturunan mereka, maka anak anak dari anak-anak lelaki mereka (cucu-cucu mereka) termasuk dalam waqaf ini. Bila seseorang berkata: "Aku mewaqafitan untuk anak lelaki si Fulan" sedangkan mereka merupakan marga di mana tak ada di antara mereka seorang anak kandang lelaki dari si Fulan. maka waqaf ditasarrufkan kepada cucu-ccu lelakinya. Jika seseorang mengatakan: "Aku mewaqafkan pada anakku dan anak-anakku (cucuku) dan anak-anakku (cucu anakku)", maka -termasuk dalam waqafnya: tiga keturunan, tidak orang-orang, setelah mereka. Mengenai ini, tidak ada khilaf/perbedaan di kalangan ulama Fiqh. (Al Muhgny 5/498, 503. 505)

8. Kapan waqif (orang yang mewaqafkan) tidak dapat menarik kembali waqafnya
Telah disepakati bahwa bila waqif (orang yang mewaqafkan) tanah untuk kuburan atau untuk pembangunan masjid, tidak menarik kembali sampai ada seorang yang dikuburkan di kuburan waqafannya itu atas perintahnya, atau masjid telah dibangun dan dibuat shalat atas perintahnya, maka si waqif tidak dapat menarik kembali waqafnya setelah hal-hal tersebut, selamanya. [Maratibul Ijma’ 97]

9. Hal waqif mengambil manfaat waqaf-annya
Telah diketahui adanya perbedaan pendapat mengenai bahwa. orang yang mewaqafkan sesuatu secara sah, tidak boleh memanfaatkan sedikit pun dari sesuatu yang diwaqafkannya itu; kecuali bahwa dia mewaqafkan sesuatu untuk kaum muslimin, seperti mewaqafkan masjid, kuburan atau sumur; maka dia boleh shalat (di masjid itu), boleh dikubur (di kuburan itu) dan boleh meminum dari sumur waqafannya itu: karena dia termasuk kaum muslimin. (Al Mughny 5/494)

10. Pewarisan tanah waqaf
Tanah yang diwaqafkan tidak dapat diwaris. Ini kesepakatan Umar dan para Sahabatnya. [Al Mughny 2/600)

11. Jual-beli waqafan
Juai-beli barang/benda waqafan adalah tidak sah (batil), baik hakim telah memutuskan keabsahan waqafnya atau tidak. Ini pendapat semua ulama. Hanya Abu Hanifah berkata: 

"Boleh menjual belikan waqafan yang tidak/belum diputuskan keabsahan waqafnya oleh hakim."

Adapun bila waqaf telah rusak dan tak lagi dapat dimanfaatkan, atau sudah cerai-berai sehingga tidak bisa dimakmurkan keseluruhan maupun sebagiannya kecuali dengan menjual sebagiannya, maka boleh menjual sebagiannya. Jika tidak mungkin dimanfaatkan sedikitpun, boleh dijual semuanya. Ini pendapat Umar di hadapan para Sahabat dan tidak ada yang menentangnya; maka ini merupakan ijmak. Bila kuda yang diwaqafkan untuk berperang sudah menjadi tua dan tak lagi patut untuk berperang, tapi masih bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain, boleh dijual menurut ijmak. [Majmu’ 9/267 ;Al Mughny 2/600, 5/517, 518 (dari lbnul Mundzir)]

12. Mentasarrufkan bekas/sisa perabot-perabot masjid
Barang-barang yang lebih dan sudah tidak dibutuhkan lagi, seperti tikar atau minyak tanah boleh digunakan di masjid lain atau disedekahkan kepada fakir miskin. Ini pendapat 'Aisyah yang telah tersiar dan tidak ditentang, maka jadi ijmak. [Al Mughny 5/520, 521]

13. Musaaqaat atas pohon waqafan
Musaaqaat terhadap pohon waqaf adalah jaiz, tanpa khilaf. [Al Mughny 5/340]

Musaaqaat ialah: seseorang menyerahkan suatu tumbuhan (pohon) kepada seseorang yang lain untuk menyiraminya dan mengurusnya dengan perjanjian akan mendapatkan bagian tertentu dari buahnya. [Al Mughny Bab Musaaqaat]

14. Muzaara'ah pada tanah waqafan
Jaiz bagi pihak yang mendapat waqaf, melakukan muzara'ah atas tanah waqafnya; tanpa khilaf. [Al Mughny 5/340]

Muzara'ah ialah seseorang menyerahkan tanahnya untuk ditanami atau digarap orang lain dan hasilnya dibagi antara pemilik tanah dan penggarap. [Al Mughny 5/351]


15. Mengakhirkan waqaf
Ulama sepakat bahwa penyewaan barang waqaf-an, tidak batal lantaran kematian nadhir nya.[Fathul Bary 4/365]

16. Waqaf untuk kerabat-kerabat tanpa ditentukan hitungannya
Waqaf untuk kerabat-kerabat (sendiri) baik dari jalur ke atas atau jalur ke bawah (anak, cucu dan seterusnya) tanpa dibatasi. adalah tidak sah (batil) menurut kesepakatan [Fathul Bary 5/292 (dari Ath Thahawy) Nailul Authar 6/27 (dari At Thahawy)]

Tentang hal ini perlu peninjauan, Sebab pada kalangan Asy Syafiiyah terdapat yang mengatakan jaiz dan ditasharufkan kepada tiga orang dari pada kerabat itu dan tidak wajib menyamaratakan (Fathul Bary 5/292 Nailul Authar 6/27 (dan lbnu Hajar)

17. Selisih antara orang-orang yang diwaqafi (mauqut'alaihim)
Bila waqif (orang mewaqafkan) melebihkan sebagian orang orang yang diwaqafinya dan yang lain, seperti misalnya menentukan untuk yang tua dua kali bagian untuk yang kecil, atau mensyaratkan mengeluarkan sebagian mereka sebab sesuatu sifat dan menariknya, sebab sesuatu sifat, seperti misalnya wakif itu berkata: "Siapa yang hafal al-Qur'an mendapat sekian dan yang melupakannya tidak mendapat sesuatu." maka ini semua shahih; dan ini merupakan madzhab Asy Syafi'iy. Ahmad; serta tidak diketahui ada khilaf. [Al Mughny 5/505. 506]

18. Waqaf tanah
Mewaqafkan tanah adalah jaiz menurut ijmak. Syuraih, Abu Hanifah dan Zufar berpendapat lain; dan ini bertentangan dengan ijmak, karenanya tidak diperhatikan. [Fathul Bary 5/310 (dari At Turmudzy) Nailul Authar 6/22 (dari At Turmudzy dan Al Qurthuby)]

19. Mewaqafkan tanah yang dibuka kaum muslimin
hukumnya :Boleh

20. Waqaf tanah untuk masjid
Mewaqafkan tanah untuk pembangunan masjid hukumnya jaiz, menurut ijmak kaum muslimin. [Syarah Muslim 7/92; Maratibul Ijma’ 97; Fathul Bary 5/312}

21. Mewaqafkan tanah untuk perkuburan
Telah disepakati atas diperbolehkannya mewaqafkan tanah untuk dibuat perkuburan. [Maratibul Ijma’ 97]

22. Mewaqafkan tempat-tempat minum
Mewaqafkan tempat-tempat minum adalah sah, menurut ijmak kaum muslimin. [Syarah Muslim 7/92]

23. Waqaf untuk yang diharamkan
Waqaf untuk rumah api (tempat pemujaan orang-orang Majusi). biara-biara, gereja-gereja, kitab-kitab Taurat dan lnjil, , tidak boleh -- baik dari orang muslim atau nonnuslim. Ini adalah madzhab Asy Syafi'iy dan Ahmad, dan tidak diketahui ada yang berpendapat lain. [Al Mughny 5/528]

24. Mewaqafkan sesuatu yang dapat hilang/habis bendanya
karena dimanfaatkan Sesuatu yang tidak mungkin dimanfaatkan tanpa menghilangkan bendanya, seperti dinar, dirham, makanan, minuman, lilin dan sebagainya, tidak sah mewaqafkannya menurut semua fuqaha dan Ahlul 'ilmi, kecuali sesuatu yang diriwayatkan dari Al Auza'iy berupa pendapat yang memperbolehkan mewaqafkan makanan. Dan apa yang diriwayatkan dari Malik berupa pendapat yang memperbolehkan mewaqafkan makanan adalah tidak benar (tidak sahih). [Al Mughny 5/524]

Dari uraian di atas TIDAK ADA satu pun istilah WAQAF DIRI !!!! (gus/aai)


 
< Sebelumnya