Random Al Qur'an

Tafsir ayat ayat Yaasin (pada Yaasin Fadhilah) PDF Cetak E-mail
Rabu, 24 Juni 2009

Ayat 1 :   يس

Asbabun Nuzul

Abu Na'im di dalam kitab Dalaail-nya mengetengahkan sebuah hadits yang bersumber dari sahabat Ibnu Abbas r.a  yang menceritakan bahwa Rasulullah  SAW  membaca surah As Sajdah, lalu beliau mengeraskan bacaannya, sehingga membuat segolongan orang-orang Quraisy merasa terganggu karenanya. Lalu mereka bangkit hendak memukul Rasulullah SAW, akan tetapi tiba-tiba tangan mereka menjadi kaku menempel pada leher-leher mereka dan tiba-tiba mereka tidak dapat melihat sama sekali. Kemudian mereka mendatangi Nabi SAW seraya meminta kepadanya, "Kami minta pertolongan kepadamu demi Allah dan demi hubungan silaturahmi kita, hai Muhammad!", maka Rasulullah SAW mendoakan mereka sehingga keadaan mereka normal kembali. Lalu turunlah firman-Nya, "Yaa Siin. Demi Alquran yang penuh hikmah." (Q.S. Yasin, 1-2) sampai dengan firman-Nya, "...ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman." (Q.S. Yasin, 10). Selanjutnya sahabat Ibnu Abbas menceritakan, bahwa ternyata tidak ada seorang pun dari mereka itu yang mau beriman. Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah hadits melalui Ikrimah yang menceritakan, bahwa Abu Jahal telah mengatakan, "Sungguh jika aku melihat Muhammad, aku akan hajar dia dan aku akan melakukan demikian dan demikian." Lalu Allah  SWT menurunkan firman Nya, "Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka..." (Q.S. Yasin, 8). sampai pada firman-Nya, "...sehingga mereka tidak dapat melihat." (Q.S. Yasin, 9). Orang-orang mengatakan kepadanya, "Inilah Muhammad", akan tetapi Abu Jahal berkata, "Mana dia? mana dia?", sedangkan ia tidak dapat melihat.

 

Tafsir

Pada surah-surah sebelumnya telah dibicarakan mengenai awal surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad, yang pada kesimpulannya disebutkan bahwa pendapat yang terkuat menetapkan huruf-huruf abjad itu dimaksudkan sebagai peringatan untuk membangkitkan minat orang yang membacanya kepada hal-hal penting yang akan disebutkan dalam ayat-ayat sesudahnya. Akan tetapi dari riwayat Ibnu `Abbas diperoleh keterangan bahwa "Ya Sin" bermakna "Ya Insan" (Wahai manusia) yakni wahai Muhammad. Demikian pula pendapat Abu Hurairah, Ikrimah, Dahhak, Sofyan lbnu Uyainah dan Said Ibnu Jubair: "Ya Sin" itu kata mereka berasal dari logat Habsyah. Sedang Malik yang meriwayatkan dari Zaid bin Aslam menyebutkan arti Ya Sin ialah kependekan dari nama-nama Allah SWT. Ada lagi yang berpendapat "Ya Sin" ringkasan dari kalimat "Ya Sayidah Basyar", yakni Nabi Muhammad  SAW  sendiri. Atau ia adalah salah satu nama dari Alquran.

 

Ayat 9 :

(وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ)

Dan kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat Melihat.

 

Tafsir:

(Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding) lafal Saddan dalam dua tempat tadi boleh dibaca Suddan (dan Kami tutup -mata- mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.) Ini merupakan tamtsil yang menggambarkan tertutupnya jalan iman bagi mereka. (Jalalain)

 

Kemudian digambarkan pula bahwa orang-orang yang tidak beriman itu memandang baik amal-amal jahat yang mereka kerjakan. Hal demikian menyebabkan mereka menjadi takjub dan sombong, sehingga mereka enggan mengikuti Rasul. Pikirannya tertutup dari kebenaran, dari apa yang dapat mendatangkan manfaat, karena itu tidaklah ada yang bisa mereka pahami kecuali apa yang telah diwariskan dari nenek moyang mereka saja. Ringkasnya mereka selalu berada dalam penjara kebodohan, seolah-olah ada dinding tembok yang memisahkan mereka dengan hati mereka hingga tidak bisa berpikir dan merenungkan dalil-dalil kebenaran ajaran yang dibawa Rasul itu. Ada pula yang mengartikan dinding yang menghalangi itu dengan hijab, hingga berarti Allah  SWT menjadikan hijab yang menghalangi orang-orang musyrik untuk menyakiti Rasul. Sedang mata yang tertutup diartikan, mereka tidak bisa mengindra dengan baik sesuatu yang dilihatnya, dan tidak satupun petunjuk yang dapat meluruskan pikiran mereka.

 

Ayat 38 :

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

 

Tafsir :

(Dan matahari berjalan) ayat ini dan seterusnya merupakan bagian daripada ayat Wa-aayatul Lahum, atau merupakan ayat yang menyendiri, yakni tidak terikat oleh ayat sebelumnya demikian pula ayat Wal Qamara, pada ayat selanjutnya (di tempat peredarannya) tidak akan menyimpang dari garis edarnya. (Demikianlah) beredarnya matahari itu (ketetapan Yang Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya (lagi Maha Mengetahui) tentang makhluk-Nya.

 

Ayat 58 : (سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ)

 (kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai Ucapan selamat dari Tuhan yang Maha Penyayang.

 

Tafsir :

(Kepada mereka dikatakan, "Salaam") kedudukan kalimat ini menjadi Mubtada (sebagai ucapan selamat) yang menjadi Khabar-nya ialah (dari Rabb Yang Maha Penyayang) kepada mereka, yakni Dia mengucapkan kepada mereka, "Kesejahteraan atas kalian."

 

Yang mereka inginkan itu ialah salam dan Allah SWT  yang disampaikan kepada mereka untuk memuliakan mereka.

Salam ini langsung disampaikan Allah SWT  atau mungkin dengan perantaraan malaikat, seperti firman Allah :

 

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

 (Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Salamun alaikum", masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S. An Nahl(16): 32)

 

Salam berarti selamat dan sejahtera, terpelihara dari segala yang tidak disenangi memperoleh semua yang diingini sehingga orang itu memperoleh kenikmatan jasmani dan rohani yang tiada bandingannya.

 

Ayat 71 :

(أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ)

Dan apakah mereka tidak melihat bahwa Sesungguhnya kami Telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang Telah kami ciptakan dengan kekuasaan kami sendiri, lalu mereka menguasainya?

 

Tafsir :

(Dan apakah mereka tidak melihat) tidak memperhatikan, Istifham di sini mengandung makna Taqrir dan huruf Wau yang masuk kepadanya merupakan huruf 'Athaf (bahwa Kami telah menciptakan untuk mereka) ini ditujukan kepada segolongan manusia (dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami) dari hasil ciptaan Kami tanpa sekutu dan tanpa pembantu (yaitu berupa binatang ternak) unta, sapi, dan kambing lalu mereka menguasainya?) dapat memeliharanya.

 

Ayat 77-78:

(وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ)

Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang Telah hancur luluh?"

 

Tafsir :

Imam Thabrani mengetengahkan pula hadits yang serupa bersumber dari sahabat Ibnu Abbas r.a. Imam Hakim mengetengahkan sebuah hadits yang dinilainya sebagai hadits sahih asalnya dari sahabat Ibnu Abbas r.a . yang menceritakan bahwa Ashi ibnu Wail datang kepada Rasulullah SAW  membawa tulang yang telah rapuh. Sesampainya di hadapan Rasulullah SAW, ia meremas-remas tulang itu hingga hancur, seraya berkata, "Hai Muhammad! Apakah tulang yang telah hancur ini akan dihidupkan lagi kelak?" Rasulullah SAW  menjawab, "Ya, Allah pasti akan menghidupkannya kembali, kemudian Dia akan mematikanmu dan menghidupkanmu kembali, selanjutnya Dia akan memasukkanmu ke dalam neraka Jahanam." Kemudian turunlah ayat ini, "Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air mani ..." (Q.S. Yasin, 77) sampai akhir surah ini. Ibnu Abi Hatim mengetengahkan pula hadits ini melalui jalur yang berasal dari Mujahid, Ikrimah, Urwah ibnu Zubair dan As Saddi. Di dalam hadits ini mereka menyebutkan bahwa orang yang membawa tulang tersebut adalah Ubay ibnu Khalaf.

 

Ayat  81:

أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ

Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? benar, dia berkuasa. dan dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.

 

Tafsir :

(Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu) padahal langit dan bumi itu sangat besar (berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu) yaitu manusia yang kecil bentuknya itu. (بَلَى /Benar) Dia berkuasa untuk menciptakannya, di sini Allah  SWT menjawab diri-Nya sendiri. (Dan Dialah Maha Pencipta) banyak ciptaan-Nya (lagi Maha Mengetahui) segala sesuatu.

 

Maraji' :

Tafsir Jalalain

Asbabun Nuzul

Tafsir Departemen Agama RI

 
Berikutnya >